Jumat, 09 Maret 2012

REFLEKSI Dr. Dian Indihadi, M.Pd



(Dr. Dian Indihadi, M.Pd.  Dosen UPI Kampus Tasikmalaya)

Subhanallah dan Alhamdulillah- Aku Bangga Menjadi Guru- buah karya Titin Supriatin berhasil diterbitkan oleh Lentera Ilmu Cendikia tahun 2012.  Buah karya yang tidak main-main telah berhasil membawa pembaca bermain-main dengan beragam mainan dan permainan pendidikan.  Semua ragam mainan dan permainan pendidikan yang disampaikan dalam tulisan itu adalah hal-hal yang biasa kita temukan dalam keseharian, dipaparsajikan dengan tutur bahasa yang fulgar, jenaka dan kata-kata yang lateral, namun makna pesan pendidikan di dalamnya sangat luar biasa dan bersifat universal.

“Pokoknya seru banget!  Aku tidak peduli rasa penat letih setelah seharian direcoki murid-murid kecilku.  Aku tidak merasakan capenya digelayuti dua balitaku kanan kiri yang berebut duduk di pangkuan saat asik berkhayal di depan computer…  ada sebuah hal yang ingin kujadikan catatan penting bagi diriku sendiri, yaitu tentang pentingnya “waktu” dan “kreativitas” bagi seorang pendidik …” (Hal. 26)
Ternyata tidak main-main seorang sarjana pertanian yang berkiprah dalam dunia pendidikan.  Jika petani harus bergantung kepada “alam dan cuaca” tetapi seorang pendidik harus bergantung kepada “WAKTU DAN KREATIVITAS”

Dalam “DASTER” (Hal. 28-40), dibuktikan bahwa sejumlah fenomena yang menjadikan kita sebagai manusia lupa diri, nilai-nilai kemanusiaan dipermainkan, beragam permainan diperagakan dan akhir dari permainan itu melahirkan manusia baru.  Pendidikan dan peran ibu menjadi faktor penentu kelahiran manusia baru.
 
“BU TITIN, I LOVE YOU…!”  (Hal 84-89).  Saya menyetujui itu, bahkan tidak hanya 5 orang murid di jalanan.  Bahkan saya berpandangan “gaji” itu bagaikan “menstruasi” bagi setiap wanita.  Datang setiap bulan tapi tidak akan lebih dari 1 minggu. … Sungguh, ibu tak akan pernah menyesali keputusan ibu, untuk tetap memilih menjadi guru!...Hari kedelapan dan kesembilan, kami lebih sibuk lagi.  Lagi lagi aku mendapatkan kemudahan pada sesi ini.  Dosen yang “aneh/nyleneh”… Beliau tidak meminta kami membuat RPP… Hal baru yang sebenarnya sangat mendasar… tanpa harus bertele-tele (Hal.109)  Disadari ataupun tidak oleh para guru adalah profesi mulia yang tidak dapat dinilai dalam angka struk gaji, diukur dalam tulisan yang diadministrasikan atau di SK kan dalam pangkat maupun jabatan.

Guru adalah petani cinta, kasih sayang dalam tutur kata dan perbuatan.

Mang Daan, Belajar pada Irfan dan Selamat Jalan Pak Karta, bahkan cerita Pemulung dan Penjual sapu merupakan hipotesis bagi pendidikan karakter yang hari ini dijadikan isyu dalam RPP di sekolah.  Penulis berhasil menyajikan bukti nyata dalam tulisan tersebut.  Pasti keberhasilan mereka tersebut dari pendidikan yang tidak direpoti oleh silabus dan RPP yang ditulis tak pernah dibaca.  

Ya Rasulullah Aku Rindu Padamu,  Siapa Bilang Nggak Mungkin, Tuhan Aku MembutuhkanMU meskipun Mimpi itu Gratis.  Pasti itu, dengan tiga kata “Pasti Aku Bisa”  Kesadaran religu melebihi segalanya.  Virus Alamat Palsu bisa dikalahkan oleh Orang Tua Hebat.  Ya Bu titin lah yang berhasil bertani Cinta, Kasih sayang dalam tutur kata dan perbuatan. 

Sebuah kritik pedas perihal komersialisasi pendidikan melalui kinerja guru berhasil disampaikan.  Saat ini sosok Mang Daan sudah sangat jarang ditemukan yang ada hanya pada kenangan para guru dan sejarah waktu di masa lalu.
Tegar, Kita Adalah Sang Motivator, Aku Pasti Bisa kemudian Mimpi Itu Gratis merupakan realita hari ini yang ada dalam nafas dan denyut nadi para guru.  Bahkan “Punishment” dari guru kepada murid juga sering melampaui batas.  Ternyata Irfan- irfan yang lain masih banyak dijumpai di kelas.

Kondisi pendidikan hari ini digambarkan melalui Pak Karta yang seorang satpam penjaga gerbang sekolah, dipertegas oleh ibu kepala sekolah yang mengagntikan Pak Karta ketika beliau tidak bertugas di gerbang sekolah.  Padahal kondisi pendidikan yang sebenarnya seperti pengemis yang belajar berdoa dan do’a  penjual sapu pada anaknya.   “…Di sini Cuma numpang cari nafkah.  Ah, siapa bilang Gratis Neng? …Bapak ingin anak Bapak nggak Cuma pintar, tapi juga bisa ngaji.  Ibadahnya rajin, otaknya juga cerdas.  Biar kalau sudah dewasa nanti bisa jadi ustad.  Jadi orang yang berguna bagi masyarakatat.”  (Hal.58)

Akhirnya; “Saya ada di sini… Menjadi orang yang punya peran bagi masyarakat.  Maka tegakkan kepala dan banggalah denganprofesi anda.  Karena lewat tangan-tangan andalah dasar-dasar pendidikan manusia dibentuk dan dibina.  Tangan para guru sekolah Dasar!  (Hal 109).  Lanjutkan.  Perjuangan hari ini dengan menjadi guru.  Aku bangga!  

Hanya itu yang dapat saya sampaikan setelah diajak jalan-jalan menelusuri jalan panjang yang Bu Titin paparsajikan dalam buku itu.

      Don’t cry for tomorrow
     Give smile for yesterday
     Be the best one for life

Tanpa seijin penulis, saya mengutip ungkapan dalam buku itu Subhanallah dan Alhamdulillah untuk mengekspresikan perasaan setelah membaca buku itu.  Selain itu, saya menyatakan kecewa berat dan ketidak puasan yang “lebai” apabila bu Titin hanya menulis buku itu saja.  Sayang, pena emas bertinta ide, gagasan dan fenomena yang ada dalam schemata akan musnah dan sirna ditelan masa apabila bu Titin tidak merealisasikan ke dalam tulisan berikutnya.

Rabu, 29 Februari 2012

Bad Mood?

Ada masa di mana kau merasa tersisih dan terasing.  Mungkin memang ada seseorang atau sekelompok mereka sengaja melakukannya padamu.  Atau mungkin sebetulnya perasaan 'terasing' itu kau ciptakan sendiri karena rasa sedih atau 'badmood' yang kadang kau sendiri tak mengerti dari mana muasalnya.  Tak masalah...

Terkadang, masa-masa sulit itu akan datang menemuimu.  Namun percayalah, sebenarnya moment itu sangat membantumu untuk beberapa hal dalam hidupmu.  Karena biasanya, saat di mana dirimu merasa terasing, kau akan memilih untuk menyendiri atau melakukan hal-hal pribadi lainnya, seperti berdoa, berkhalwat dengan Rabbmu dan merenung.  Menghisab serta introfeksi diri.

Pada saat seperti itu, akan muncul di ruang hatimu pergolakan hati: mengutuk, menganalisa, atau bahkan mencoba berprasangka baik dan memaafkan apa yang dilakukan oleh orang-orang yang mengasingkanmu, maka tumbuh pula lah kedewasaan dan kebijakan di sudut relung hatimu.  Lalu kau pun akan berseru takjub; Subhanallah...langka terjadi sebuah jiwa menyerah pasrah pada Rabbnya, merunduk dan menyerahkan segala beban, dalam ketidakberdayaan diri.  Nikmat dan indahnya moment ini.  Thanks ya Rabb..

Kau tahu teman, ada banyak hal yang kadang tak kita mengerti, mengapa itu terjadi.  Jangan heran, karena bisa kau buktikan sendiri, acap, secara tak kita sadari, tangan-tangan Allah bekerja untuk merangkai takdir para makhlukNYA.  Sebagaimana halnya permulaan kehidupan, kematian, rejeki, jodoh dan lainnya.  Maka sabar dan syukur adalah 2 kata kunci yang paling ampuh untuk menghadapinya.

Andai takdir hidupmu tergurat penuh onak, duri dan duka, bersabarlah... karena sesungguhnya di ujung skenario hidupmu, bahkan sebelum hal itu berakhir, kau akan menyadari betapa indah Allah menciptakan kisah hidup seperti itu untukmu.  Dan satu hal harus kau syukuri : Gembira dan bahagialah!  Karena Allah memilihmu untuk menjalani hari-hari yang berat dalam hidup.  Karena Allah tahu: KAU INSAN YANG KUAT DAN TERPILIH!!!

Rabu, 02 November 2011

inspirasi...


IMG_1074.jpgMANG DAAN
(Kenangan  sosok di masa Kanakku)

Seorang teman di jejaring social facebook tak sengaja telah menginspirasiku untuk menuliskan tentang sosok sederhana yang ingin kutuliskan di sini.  Tokoh yang satu ini tak seterkenal menteri pendidikan , tak sehebat Pak B.J Habiebie, tak setampan Dude Herlino atau segagah Dede Yusuf.  Bahkan sebaliknya, sosok ini teramat sangat sederhana di mataku, juga di mata orang-orang kebanyakan desaku pada waktu itu.  

Penampilannya biasa-biasa saja.  Bahkan boleh dibilang kumuh dan kusut.  Seragam kesehariannya adalah sebagai berikut : Kemeja lusuh, kadang ada tambalan di beberapa tempat.  Beralas kaki sandal butut, terkadang malah sepatu yang ujungnya sudah sedikit menganga.  Mengepit tas kulit imitasi tanpa tali penggantung yang juga sama bututnya.  Tas kulit itu berisi perkakas pekerjaannya sehari-hari, yaitu kertas gambar, pensil (yang sering diselipkannya di sela-sela kuping saat bekerja), benang jahit atau senar, jarum besar dan lem sepatu.  Pekerjaan beliau memang multi talenta, kadang menjahit dan mengesol sepatu, kadang membuatkan gambar untuk anak-anak bahkan kadang pekerjaan makelar pun dilakoninya.  Namun di kalangan kami, para anak-anak dan remaja, beliau lebih dikenal sebagai tukang gambar dan sol sepatu.  Kalau kami ada PR menggambar, pasti yang kami tunggu di depan rumah adalah beliau.  

Mang (om, paman, red) Daan, begitu kami memanggil beliau.  Kami selalu merindukan kehadirannya.  Kalau kami tak punya PR menggambar, Mang Daan kami minta untuk bercerita tentang apa saja.  Mang Daan akan dengan senang hati menceritakan pengalamannya bertemu dengan orang-orang.  Mang Daan juga akan menceritakan bahwa si Anu minta digambarkan ini, si Anu pesan gambar itu.  Atau Beliau akan bercerita tentang hal-hal yang ditemuinya dijalan.  Ada cerita horror, cerita sedih, atau cerita lucu.  Kami akan selalu senang mendengarnya.  Apalagi cerita-cerita lucunya.  Karena Mang Daan akan mengakhiri ceritanya dengan tawa khas beliau dan kata : KAGUGU nya...(lucu ya, red).

Mang Daan mirip sebuah tokoh legendaris bagi masyarakat di kampungku.  Dari jaman ayah-ibuku, kakakku hingga jamanku, Mang Daan selalu setia pada pekerjaannya.  Mengesol sepatu dan menjadi tukang gambar untuk anak-anak.  Menggambar kuda, kambing, bebek atau apa saja yang diminta anak-anak.  Tak ada yang berubah dari penampilannya.  Terakhir, saat aku duduk di bangku SMA, hanya sebuah kacamata bekas, yang kadang copot sebelah lensanya,  menambah asesoris penampilannya.  Maklumlah, usia tak bisa dibohongi dan tak bisa menghalangi semakin melemahnya fungsi anggota tubuh.  Langkah kaki Mang Daan pun tidak segagah dulu lagi.  Mang Daan terkadang kulihat mengayuh PIT (sepeda, red) ontelnya dengan kayuhan yang lemah.  

Ada sebuah kebiasaan Mang Daan yang sungguh membuatku terkesan dan tertegun haru.  Mang Daan bukanlah orang yang pintar dan ahli.  Beliau hanyalah sosok yang teramat sederhana, bahkan mungkin menduduki kasta rendah di masyarakatku.  Namun Beliau mempunyai kepedulian yang besar terhadap orang-orang di sekitarnya.  Terutama anak-anak usia sekolah.  Jika ada yang meminta jasanya untuk menggambar atau mengesol sepatu, Mang Daan tidak pernah memasang tarip berapa rupiah jasanya harus dibayar.  Bahkan sering beliau memberikan jasa sol sepatu dan gambar gratis pada anak-anak yang tidak punya uang untuk membayarnya.  Beliau selalu tersenyum dan tertawa menerima apa pun yang kami berikan.  Beliau pasti akan bertanya, “Boga duit deh?”  (punya uang tah? Red)  Kalau ada yang menggelengkan kepala tanda tak punya uang, beliau berkata, “Geus teu naon-naon… nu penting maneh bisa sakola, teu dicarekan ku guru…” (Sudah, tidak apa-apa.  Yang penting kamu bisa bersekolah dan tidak dimarahi guru, Red).  Subhanallah….
Kini, sosok sederhana itu telah pergi menghadap Sang Khalik.  Namun namanya masih kami kenang dengan lekat di memori kehidupan kami.  Mungkin ada di antara kami yang pernah beliau tolong telah menjadi orang besar dan sukses.  Sangat mungkin… Aku hanya bisa berharap, ketulusan dan kepedulian Mang Daan bisa dijadikan sebuah contoh tauladan yang mulia bagi kita semua.  Walau hanya sekedar menjahitkan sepatu yang rusak atau menggambarkan binatang, namun jika dilakukan dengan hati yang tulus dan gembira, tetap itu adalah dulang sumber pahala yang besar dan membuahkan syurga bagi sang pelakunya.

Mang Daan adalah salah satu tokoh pahlawan pendidikan bagiku.  Kepeduliannya yang besar pada anak-anak, menurutku patut memdapatkan dua acungan jempol.  Dari seorang Mang Daan lah anak-anak pada jamanku secara tidak langsung telah belajar menggambar dengan sederhana, dari seorang Mang Daan lah anak-anak bisa belajar ketulusan dalam memberi.  Dari seorang Mang Daan lah anak-anak bisa pandai bercerita dan tertawa lepas.  Dari seorang Mang Daan lah anak-anak bercermin bagaimana menjalani pahit getirnya hidup . Aku yakin, sedikit banyaknya Mang Daan telah memberikan inspirasi hidup buat kami.  Pelajaran tentang nilai-nilai kehidupan  yang akan kami bawa sampai nanti.
Ada sebuah catatan penting yang ingin aku garis bawahi bahwa ternyata ketika kita ingin memberi, jangan menunggu kita kaya terlebih dahulu.  Karena memberi tidaklah identik dengan memberi dalam bentuk materi.  Banyak hal yang bisa kita bagikan untuk orang lain.  Keramahan kita, kepedulian kita, senyum, sapa, kasih sayang, adalah kekayaan moral yang bisa dibagi tanpa harus menunggu waktu dan kesempatan.  Wallahu ‘alam bissawab.

(Bekasi, 2 November 2011.  Untuk mereka yang pernah ada dalam kehidupan masa kanakku… terimakasih karena telah berbagi… )



Sabtu, 22 Oktober 2011

Inspirasi

IMG_0417.jpg                     Bapak Ingin …
                             (Writted by: Titin Supriatin, S.P)

Jam dinding di kantorku menunjukkan pukul 16.00.  Saatnya aku mengakhiri kerja hari ini.  Segera kukemas tasku dan bergegas menuju pintu gerbang sekolah untuk pulang.  Dari jauh aku melihat titik kecil benda bergerak mendekat ke arahku.  Perlahan titik itu membesar dan menunjukkan wujud yang makin jelas.  Apalagi sesekali terdengar suara yang teramat aku kenal dari benda bergerak itu,  “Pu… Sa..puuu “

Sebuah ide mendadak muncul di kepalaku.  Tukang sapu keliling itu mengingatkanku.  Alat-alat kebersihan di rumah sudah tidak layak lagi untuk  dipakai dan tentu saja layak untuk membeli yang baru.  Segera kudekati penjual sapu  yang sedang meneriakkan dagangannya dengan suara yang lantang : “Puuuu…. Sa puuuu…”

Penjual sapu itu ternyata sudah sangat sepuh.  Namun badannya masih terlihat kekar dan kuat.  Kulitnya legam terbakar sinar matahari.  Sorot matanya tajam namun ramah.  Terseok-seok langkahnya menarik gerobak yang sarat dengan barang-barang dagangan.  Sapu, pengki, sapu lidi, ember, bakul, dan lain-lain. Sebersit iba menyentuh hatiku.  Ya Allah… aku nggak bisa membayangkan betapa berat bapak ini membawa gerobaknya  berkeliling kampung menjajakan dagangannya dari rumah ke rumah.  Beratnya beban yang dibawa mungkin tak akan terasa jika hari itu hasil jualan yang didapat banyak.  Tapi bagaimana kalau tak ada yang membeli satu barang pun? 

Lintasan rasa empati membuatku tak berpikir dua kali. Transaksi jual beli pun terjadi.  Aku membeli beberapa barang yang kuperlukan.  Juga membeli barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu aku perlukan.  Rasa iba tadi yang mendorongku untuk melakukannya.  Kemudian aku membayar barang-barang yang kubeli,
                “Ini  Pak uangnya, jadi berapa semuanya?”  Aku menyerahkan selembar uang limapuluh ribuan.
                “Waduh Neng, punten… nggak ada kembaliannya.  Bapak baru kaluar pisan…” Jawab si Bapak dengan logat sunda yang kental. 
                “Oh, begitu ya Pak.  Uhm… kumaha atuh, saya nggak punya uang pas lagi.”  Aku merasa tak enak juga untuk membatalkan,
                “Ia Neng, Bapak baru kaluar.  Tadi pagi habis nganter anak sekolah di pesantren.  Jadi baru balik tadi siang.  Reureuh sakedap (istirahat sebentar, red.)  terus baru Bapak jualan lagi.  Jadi belum dapat uang, nih lihat… “ Si bapak menjelaskan panjang lebar.  Terakhir dia membuka laci uangnya yang terletak menyatu di ujung gerobak.  Cuma ada beberapa lembar ribuan dan beberapa keping recehan.  Rasa iba menyentuhku kembali.
                “Uhm… baik Bapak.  Nggak apa-apa.  Kebetulan rumah saya dekat dari sini.  Kalau begitu kita ke rumah saya saja dulu.  Mudah-mudahan ada uang pas di rumah.”  Akhirnya aku mengajak si bapak ke rumah yang hanya berjarak satu blok dari sekolah tempatku mengajar.

Si bapak pun mengikutiku dari belakang.  Menyeret gerobaknya dengan penuh semangat.  Sementara pikiranku mereview ulang percakapan tadi.   Si Bapak baru berjualan sesore ini, apa ada yang masih mau beli?  Padahal baru keliling dua blok saja, pasti matahari sudah tenggelam di ujung barat sana.  Berapa uang yang bisa didapatnya hari ini?  Dan tadi, dia mengatakan keterlambatannya karena harus mengantarkan anaknya masuk pesantren.  Subhanallah…

                “Bapak maaf, putra bapak di sekolahkan di pesantren mana?   Bukankah di Bekasi banyak sekolah juga, gratis lagi Pak…”  Aku bertanya penasaran.
                “Eta Neng, di Subang.  Bapak kan memang kawit (asal) na mah dari Subang.  Di sini cuma numpang cari nafkah.  Ah, siapa bilang gratis Neng?  Tatangga Bapak sekolah di negeri juga ada saja bayarannya.  Lagi pula Bapak Ingin anak Bapak nggak Cuma pinter, tapi juga bisa ngaji.  Ibadahnya rajin, otaknya juga cerdas.  Biar kalo sudah dewasa nanti  bisa jadi ustad.  Jadi orang yang berguna untuk masarakat.  Nggak seperti Bapak yang cuma keliling bawa gerobak, capek…  Bapak teh ingin pisan Neng… biar lah bapak cari uang ke sana ke sini buat biaya anak-anak sekolah.  Biar mereka sekolah yang tinggi…  Da kerasa sama bapak, orang bodoh teh nasibnya ya seperti Bapak ini…”  Jelas si Bapak di antara nafasnya yang tersengal menarik gerobak yang berat.  Penjelasannya yang panjang dan lebar membuatku terpaku dalam keharuan.

Subhanallah.  Lewat sosok tua nya yang sederhana.  Lewat semangatnya yang tak lekang di sengat terik sinar matahari dan terpaan debu jalanan. Lewat tatap mata yang optimis memandang kehidupan masa depan.  Lewat langkah gagah menerjang badai kehidupan.  Lewat perkataan bijaknya yang mengandung harapan akan pencerahan negeri ini. Aku bisa belajar 1 hal : MIMPI  (harapan).

Tentang MIMPI, siapa pun tidak melarang untuk bermimpi.  Tidak akan ada seorang pun yang protes seindah apa kita ingin bermimpi.  Mimpi itu gratis kok!  Maka bermimpilah!  Lukiskan impian indah tentang hari ini dan esok.  Karena kehidupan tidak hanya berhenti sampai hari ini.  Masih jauh dan panjang perjalanan hidup kita ke depan.  Dengan adanya mimpi, kita punya harapan.  Kita punya cita-cita dan tujuan yang jelas.   Kita juga jadi lebih terarah menjalankan hidup.  Untuk apa hidup dan ke mana kita bermuara pada akhirnya.

Aku masih tertegun berdiri di pintu gerbang rumahku.  Bapak penjual sapu itu kembali menarik gerobak dagangannya.  Meneruskan perjalanan pencarian nafkahnya hari itu yang belum tuntas.  Suaranya yang lantang terdengar semakin sayup menjauh dariku.  Dan akhirnya tenggelam di ujung jalan sana.  Namun ada satu kalimat ucapannya yang sampai detik aku menuliskan kisah ini masih terngiang : “Bapak ingin anak Bapak menjadi orang yang pintar dan berguna untuk masyarakat Neng…”

Sebuah kalimat harapan dari seorang ayah pada anaknya.  Harapan yang aku yakini juga dimiliki oleh para ayah di seluruh pelosok penjuru dunia.  Harapan yang membuat para ayah bertahan untuk terus berusaha dan bekerja keras mencari nafkah.  Menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya sampai mereka mampu untuk mandiri dan berkarya. 

Aku menghela nafas panjang.  Kalimat “Bapak ingin…” seolah ditujukan untukku.    Aku jadi teringat wajah para murid kecilku.  Bertanya dalam benak, apakah mereka tahu dan mengerti apa yang diharapkan ayah dan ibu mereka?  Apakah mereka ikut merasakan betapa ayah dan ibu mereka bekerja keras untuk kenyamanan hidup anak-anaknya?  Apakah… Ah, aku pikir tak penting untuk menjawab pertanyaan itu.  Yang harus aku tekadkan dan catat dalam hati adalah : Jadilah motivator bagi murid-muridku, agar mereka terpacu untuk menjadi yang terbaik dalam segala hal.  Menjadi manusia yang punya manfaat bagi orang-orang di sekitar.  Membantu mewujudkan harapan dan cita-cita mereka.  Juga harapan ayah dan ibu mereka. Mendidik dan mengajar putra dan putri yang mereka amanahkan padaku.  Semoga… aku bisa penuhi harapan itu!!!  Bismillah…      

(Bekasi, 22 Oktober 2011 : untuk para ayah yang dengan ikhlas berkorban demi putra/putrinya)
 

Kamis, 20 Oktober 2011

Berbagi


Waktu dan Kreatifitas
(writed by: Titin Supriatin, S.P)

Bermula dari ketidaksengajaan.  Sabtu siang itu, sepulang dari tempat kerjaku, aku hunting buku ke Gramedia Metropolitan Mall.  Sebetulnya tidak ada niat untuk mencari buku-buku tertentu.  Ya seketemunya saja deh… buku apa yang akan ‘berjodoh’ denganku hari itu. 

Sebuah buku bercover gadis berkepala plontos sedang bertangisan dengan ayahnya menarik hatiku untuk kubeli.  Surat Kecil Untuk Tuhan, begitu judul yang tertulis.  Sudah lama juga aku penasaran dengan buku itu.  Buku yang sampai detik aku membelinya, sudah dicetak belasan kali dalam satu tahun.

Tidak puas dengan cuma sebuah buku, mataku kemudian sibuk mencari mangsa berikutnya.  Aku ingat acara workshop tentang pembuatan media belajar menggunakan program macroflash yang pernah aku ikuti.   Aku sungguh tertarik dengan program tersebut.  Sayangnya aku tidak bisa mengikutinya dengan baik karena keterbatasan pengetahuanku tentang dunia software yang satu ini.  Aku pikir, mungkin aku bisa mempelajarinya sendiri lewat buku.  Rasa penasaran segera mendorong langkahku ke arah rak berlabel ‘komputer’, sambil mataku terus memilah dan mencari, mana buku yang aku butuhkan.  Ahaaa, ini dia!   Sebuah buku tebal dengan judul sangat menggoda “Macroflash 5.6”.  Segera aku ambil dari sana.  Tapi eit… tunggu dulu!  Aku melihat ada sebuah judul yang lebih menantang lagi di sebelahnya, judulnya “Membuat Comic Strip Instan Untuk Hobi dan Profesional”  Wah…!

Dengan ‘lahap’ kubuka dan kubaca beberapa hal penting di dalamnya.  Subhanallah… ini dia  yang aku butuhkan: Membuat komik untuk presentasi, cocok sekali dengan hobbyku bercerita dan mendongeng pada anak-anak dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas.  Pasti kegiatan belajar kami akan lebih asik dan menarik dengan bantuan sebuah media yang menunjang.

Singkat cerita, penuh antusias aku baca buku seharga Rp. 36.900,- itu.  Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca lebih detail buku itu.   Kupikir akan lebih baik jika langsung kupraktekkan saja apa yang ditutorkan si penulis dalam bukunya, lalu…Let’s see the next, apa yang terjadi?  Jawaban singkatnya Cuma 2 kata saja : Subhanallah dan Astaghfirullah…

Subhanallah nya, karena aku merasa girang betul mendapatkan sebuah ilmu baru tentang pembuatan sebuah media belajar, yang jujur saja, masih belum banyak orang yang memanfaatkannya dalam kegiatan belajar mengajar.  Padahal jika mau, sudah demikian berkembangnya dunia informasi dan tekhnologi yang bisa kita manfaatkan untuk kemajuan kualitas pendidikan anak bangsa.  Cara pembuatannya pun saat dipraktekan begitu mudah dan menyenangkan.  Apalagi buat aku yang ngga ada basic keilmuan computer.  Hanya bermodal tekad, nekad dan keinginan kuat untuk memberikan yang terbaik dalam dunia pendidikan anak.

Astaghfirullah nya, aku jadi lupa diri dan waktu.  Aku begitu asik dengan mainan baru itu.  Aku bisa berjam-jam ber’khalwat’ dengan laptop kesayanganku.  Meng’Klak-klik’ mouse.  Mengkhayal konsep cerita (kebetulan aku seorang penghayal ulung, jadi pass pisan dan ada penyaluran).  Browsing.  Download  gambar dan lagu.  Pokoknya seruuuu abizzz!  Aku tidak peduli rasa penat letih setelah seharian direcoki murid-murid kecilku.  Aku tidak merasakan capenya digelayuti dua balitaku kanan kiri yang berebut duduk di pangkuanku saat asik berkhayal di depan computer.  Karena kemudian,  aku bisa mengakhiri kerjaku semalaman suntuk dengan kata ALHAMDULILLAH… dada berdebar saking girangnya dan rasa puas saat bisa menghasilkan sebuah karya yang baru : Komik bergambar sesuai dengan tema belajar yang akan aku sampaikan dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelasku.  Sungguh menyenangkan!  Terbayang ekspresi murid-murid kecilku saat aku bercerita dengan bantuan cerita bergambar yang kubuat sendiri.  Dan saat itulah sebetulnya yang aku tunggu : binar bahagia  yang terpancar dari wajah-wajah mereka. 

Dari pengalaman ini, ada sebuah hal yang ingin kujadikan catatan penting bagi diriku sendiri, yaitu tentang pentingnya ‘waktu’ dan ‘kreatifitas’  bagi seorang pendidik dan pengajar sepertiku.  Bagaimana kita harus bisa memanfaatkan waktu untuk terus berkarya dan berkreatifitas positip.  Rasanya waktu tak pernah cukup andai kita bisa mengisinya dengan hal-hal baru yang bermanfaat.  Selalu ada tantangan dan rasa penasaran untuk terus membuat karya.  Apalagi aku sadar betul, bahwa WAKTU  tak pernah berhenti barang sejenak untuk rehat.  Dia terus bergulir dan berlari.  Menerjang detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun.  Tugas kita adalah mengisinya dengan berbagai kreatifitas yang produktif.  Karya yang indah walau sederhana, bernilai positip dan terpenting bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita.

Karena kehidupan adalah pemisalan sebuah kegiatan melukis di atas kertas.  Kertas kehidupan kita mirip sejenis kertas tissue yang bergulung-gulung.  Panjang dan bahkan kadang kita tak tahu di mana ujungnya.  Begitu pula waktu dan kreatifitas dalam kehidupan.  Kertas itu adalah WAKTU dan kreatifitas itu adalah tintanya.  Apa jadinya, andai Allah tiba-tiba menghentikan waktu kehidupan kita, sementara kertas kehidupan itu belum kita isi atau hanya sedikit yang sudah kita lukisi dengan kreatifitas kita?  Jawaban apa yang akan kita beri pada hari di mana pertanyaan itu akan muncul : “KAU GUNAKAN UNTUK APA WAKTUMU SELAMA HIDUP???”

Wallahu’alam bissawab.  Bekasi, 20 Oktober 2011.  (Catatan kecil untuk diri : Apa pun dan siapa pun kamu, jadilah yang terbaik!)

Minggu, 18 September 2011


BELAJAR KEPEDULIAN PADA “IRFAN”
(Writed by: Titin Supriatin, S.P)

Ramadhan bulan penuh keberkahan. Sayang sekali Ramadhan telah berlalu terkejar Syawal. Kepergiannya menyisakan kesedihan di hati kita. Karena pada bulan Ramadhan lah kita saling berlomba meraih keberkahan dan ridha NYA. Berpuasa (so pasti!), shalat tarawih, tadarus Qur’an, menyediakan makanan berbuka untuk orang-orang, dan yang paling booming adalah menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Subhanallah…semoga keberkahan mengalir pada siapa saja yang telah berhasil mengisi hari-hari di bulan itu.
Bicara tentang kepedulian pada fakir miskin dan anak yatim, tiba-tiba aku teringat peristiwa beberapa bulan yang telah lewat. Peristiwa itu terjadi pada suatu hari di sebuah pagi yang cerah. Seperti biasa aku menyiapkan murid-murid berbaris di depan kelas saat bel masuk kelas usai berdentang. Kali ini aku agak kecewa, karena tidak seperti biasanya, murid-murid kecilku masih asik duduk-duduk di kursi mereka. Ada yang bergerombol, ada juga yang duduk menyendiri. Beberapa anak saja yang sudah berdiri di depan kelas. Yang lebih membuatku “dongkol” adalah mereka tidak hanya asik duduk, tapi masing-masing mulut mereka mengulum sebatang permen kojek dengan nyamannya. Tak memperdulikan teriakanku untuk cepat keluar dan berbaris di depan kelas. Akhirnya aku bimbing tangan mereka satu persatu untuk ke luar kelas. Bayangkan! 20-an anak yang harus aku gandeng! Hh… Benar-benar sebuah ujian untuk kesabaranku…
“Ini kan gara-gara Irfan Bu… “ Seorang murid yang sudah berdiri di depan kelas sedari tadi berbisik di telingaku. Matanya mencuri pandang pada Irfan yang dengan santainya mulai ikut berbaris.
“Memangnya kenapa dengan Irfan?” Aku mulai terpropokasi. Kupandangi Irfan penuh selidik. Sosok kecil berbadan kekar itu senyum-senyum tanpa merasa berdosa. Di bahunya tersanding sebuah tas kecil yang dipasang melintang melintasi bahu dan badannya. Mirip inang-inang tukang kredit yang suka berkeliaran di pasar-pasar.
“Irfan jualan permen Bu. Lihat saja… teman-teman hampir semuanya makan permen.”
Ups…! Betul juga! Memalukan! Ini sudah keterlaluan. Pagi-pagi seharusnya murid-muridku berbaris rapih untuk kemudian membaca ikrar, citra sekolah dan berdo’a bersama. Bagaimana bisa khusyu melakukan semua itu, kalau mulut mereka tersumpal permen kojek? Permen kojek yang dijual Irfan! Hh… darahku sudah mulai naik ke kepala. Kemarahan sudah ada di ujung lidah. Tapi, Sabar Bu guru! Sebuah bisikan batin mengingatkanku. Oh, baiklah… aku akan bersabar, tapi lihat nanti di dalam kelas!
Setelah anak-anak masuk kelas aku menasehati murid-muridku bahwa tidak baik makan permen pagi-pagi. Selain merusak gigi, merusak kekhusuan baris dan persiapan belajar. Kukatakan pada mereka, aku tidak melarang mereka makan atau minum, tapi ada saat-saat tertentu hal itu tak boleh dilakukan.
“Iya nih Bu… gara-gara Irfan sih pake jualan permen segala…” Hampir separuh muridku berteriak menyalahkan Irfan. Tangan mereka menunjuk Irfan berbarengan. Irfan merengut malu. Tapi senyum masih terpasang dengan manis di wajahnya. Aku jadi tak tega. Tapi aku tetap harus mengingatkannya.
“Irfan, betul kata teman-temanmu, ibu juga tidak melarang siapa pun berjualan. Tapi ada waktu juga untuk berjualan dan barang apa yang boleh dijual. Jadi Ibu mohon kalian memahami ini. Irfan, Ibu Nanti mau bicara sama kamu!” Kataku di depan anak-anak. Suaraku yang tegas rupanya membuat Irfan gentar juga. Tanpa diminta dia bangun dari kursinya dan menghampiriku. Kemudian tas selempangnya diberikan padaku dengan takut-takut.
“Nih Bu Titin, aku kasihkan deh uang jualanku…” Aku jadi trenyuh. Tapi eit… awas, jangan-jangan ini taktik Irfan untuk menggagalkan “funishmen” yang akan aku beri untuknya.
Saat bel istirahat berbunyi, Irfan kupanggil. Kemudian aku menasehatinya kembali panjang pendek, dengan gaya bahasa yang bisa dimengerti oleh anak usia kelas 1. Irfan menatapku penuh perhatian. Setelah kuanggap Irfan mengerti apa yang aku katakan, aku tersenyum dan menyuruhnya pergi.
“Nah… sekarang kamu boleh istirahat dan boleh jualan lagi. Dan ingat, tolong jangan diulangi lagi apa yang terjadi pada pagi hari ini.”
“Baik bu, terima kasih. Tapi ehmm…, tolong hitungkan uang hasil jualanku dong Bu.” Irfan membuka tasnya kemudian mengeluarkan berlembar-lembar uang ribuan dari dalamnya. Subhanallah, banyak juga uang yang dia dapat!
“Banyak sekali uangnya Fan…Betul ini hasil jualanmu semua?” Kataku setengah tak yakin.
“Betul Bu, nanti sore uang ini aku berikan pada mamaku untuk kusumbangkan pada korban bencana alam.”
Ups! Menyumbang korban bencana alam?! Masya Allah. Sejenak aku tertegun dalam rasa kaget bercampur kagum yang luar biasa. Subhanallah… kekaguman itu mengalir deras ke pembuluh nadi dan otakku. Air mata pun tiba-tiba menetes tanpa kuminta. Dengan haru kupeluk Irfan segera.
“Betul uang ini untuk korban bencana alam anakku?” Tanyaku dalam kalimat yang terbata.
“Iya! Kata mamaku, kemarin malam rumah warga kampung sebelah perumahan elit di kawasan tempat mamaku bekerja tanahnya longsor akibat hujan deras. Jadi aku ingin membantu mereka. Kasihan kan Bu, rumah mereka hancur…”
Oh, Irfan anakku… murid kecilku yang kadang selalu ada saja ulahnya. Ternyata kali ini aku keliru besar! Maafkan bu guru ya nak! Tanpa menunggu waktu segera kukirimkan sort message kepada mamanya. Kutulis beberapa kalimat di layar telepon genggamku.
…terima kasih Ibu, sudah mempercayakan pendidikan putra ibu di sekolah kami. Ananda Irfan yang shaleh, telah membuat saya bangga dan meneteskan air mata haru pagi ini. Ananda berjualan permen dan memberikan uang hasil jualannya untuk korban bencana alam. Sebuah pelajaran kepedulian yang sederhana tapi LUAR BIASA! Yang bahkan tidak sempat terpikir oleh saya, ibu gurunya…
Sekali lagi kupeluk Irfan dan kucium pipinya, kubisikkan sebaris kalimat ini, “Subhanallah…Trima kasih Nak, kamu murid ibu yang baik. Kamu telah berikan ibu sebuah pelajaran untuk selalu peduli pada sesama!” @

(Bekasi, September 2011. Untuk murid kecilku Irfan)