Loading...

Senin, 16 Maret 2015

Just Sharing what in My mind...

Deadline                                   

 (catatan kecil di akhir liburan sekolah...)
By    : Titin Supriatin, S.P


Tiga  hari lagi waktu yang tersisa!  Kutatap bola mata bundar milik anakku dengan lekat.  Tak ingin kulepas momen sesaat yang sering kulewati atau lebih tepatnya kuhindari.  Karena dengan seringnya menatap bola mata anakku yang tanpa dosa dan berharap banyak ibunya bisa hadir menemani aktivitas kesehariannya, sesering itu pula aku merasa bersalah.  Aku tak punya cukup waktu untuk sekedar menemani dan mengantarnya sampai pintu gerbang sekolah.  Hanya mengantar padahal.  Tidak harus menunggui dan menemaninya sampai waktu kepulangan.  Seperti kebanyakan temannya yang masih duduk di TK A.

Kali ini tidak.  Tak akan kulewatkan. Kutatap lagi bola mata jernihnya sebelum tubuh mungil itu hilang di balik pintu kelas.  Senyum bahagia merekah di bibirnya.  Mengundang genangan air yang tiba-tiba saja memenuhi kelopak mataku.  Duhai Rabb... tak kunyana, bahagia itu sangat sederhana.  Melihat senyum bungsuku yang manis, aku merasa bahagia.  Haru dan sedih bercampur jadi satu.  Maafkan ibu anakku. Mugkin selama ini kau begitu merindukan ibu ada di sampingmu.  Kau tak menuntut setiap waktu untuk terus bersama ibu.  Namun jujur sayang... waktu ibu memang sangat terbatas di pagi hingga sore hari.  Ibu harus bekerja.

Bersyukur, aku berprofesi sebagai guru.  Saat jeda waktu antar semester, ada waktu libur yang bisa aku manfaatkan sebaik-baiknya.  Apalagi   kali ini waktu libur sekolah tempatku mengajar berbeda dengan kebanyakan sekolah lainnya.  Termasuk sekolah anak-anakku.  Aku bisa memanfaatkan sisa waktu 3 hari ini untuk menikmati peranku yang selama ini tak sepenuhnya  mampu aku jalankan.  Bukan karena kesengajaan.  Tapi karena sebuah tuntutan dan konsekuensi pengabdian.

Seperti pagi ini, saat hari pertama anak-anakku mulai bersekolah kembali, aku bisa memandikan mereka, merapikan seragam, menyiapkan sarapan, bekal makan siang mereka, nasehat-nasehat sederhana yang sering dilakukan ibu-ibu yang lainnya di pagi hari.  Dengan kesadaran PENUH.  Tidak dengan separuh hati yang melayang ke sana ke mari.  Semisal saat memandikan, tapi hatiku berfikir di mana menyimpan seragam kerjaku, kerudung apa yang cocok kukekanakan hari ini, sepatu apa yang akan aku pakai, tugas apa yang harus kusiapkan untuk murid-muridku.  Ah... aku ada bersama aktivitas anak-anakku, tapi hatiku TIDAK.

Subhanallah. Patut kuulang ribuan kali berkah libur ini.  Aku bisa melepas anak-anakku ke sekolah dengan senyum teduh dan doa yang kubisikkan lembut di telinga mereka.  Kesyahduan indah pagi hari, yang mampu menentramkan hati anak-anakku untuk berangkat dengan ceria dan semangat yang menyala.  Kupandangi kepergian mereka dengan doa yang semoga mampu mengetuk pintu  langit tempat Rabb-ku berada,

“Duhai Allah... yang menciptakan alam semesta raya, hamba titipkan buah hati amanah-MU pagi ini dan pagi-pagi berikutnya.  Tolong jaga mereka ya Rabb... dekat ataupun jauh dari pandangan mata ini.  Jauhkan dari mara bahaya dan dari mereka yang aniaya.  Hamba menyayangi mereka, dengan segala keterbatasan ini.  Engkaulah sebaik-baik pelindung... “

Tak berlebihan jika aku ungkapan di sini, betapa aku ingin waktu yang tersisa mampu membayar hutang waktu yang seharusnya dimiliki anak-anakku.  Belajar di malam hari, mengulang pelajaran yang belum mereka pahami dengan SABAR.  Karena jujur, sering waktu yang kubayar di saat menemani mereka belajar atau bermain, adalah waktu sisa yang ada hari itu.  Dengan bumbu letih, cape, penat, dan emosi yang terbawa dari tempat kerja.  Kadang pekerjaan sekolah dan masalah masih belum sepenuhnya lepas dari pikiranku.  Hingga tak jarang anak-anakku tak terlalu bersemangat untuk mengikuti petunjuk ibunya saat mengulang pelajaran atau mengerjakan PR.  Padahal ibunya sangat berSEMANGAT untuk menuntaskan aktivitas belajar malam hari itu.  Agar segera bisa beristirahat.  Yang lebih mencemaskan, semangat yang dimaksud kadang adalah semangat penuh EMOSI (karena sudah penat) saat mengajari anak-anak. Hilang kesabaran.  Padahal saat mengajari murid-murid di sekolah, bisa begitu lembut dan sabar ruarrr biasa!

 Kesibukanku mengajar dampaknya memang tak sederhana. Telah cukup banyak peristiwa yang menjadi catatan buatku.  Bungsuku yang sering dan berani protes secara langsung berkata seperti ini, “Ibu... Ara jarang deh dianter ibu ke sekolah atau ngaji.  Temen-temen Ara mah dianter ibunya...”  Atau lain kesempatan, “Ibu... Ara mau lomba menari besok.  Ibu lihat Ara ya...”  Permintaan yang teramat sederhana.  Mengantar. Melihat.  Tak meminta barang atau mainan mahal.  Tapi aku tak sanggup memenuhinya.  Astaghfirullah...

Anak ketigaku juga sering mengeluh.  “Ibu, aku malu jalan-jalan tak ditemani ibu.  Semua ibu temanku ikut karya wisata sekolah.  Aku sama siapa?”  Atau lain peristiwa saat aku telat menjemputnya pulang sekolah, “Ibu, kok lama banget  jemput aku... aku kan sedih teman-temanku sudah pulang semua”
Anak keduaku, melakukan protes dengan gerakan tutup mulut.  Susah mengungkapkan apa yang diinginkannya.  Atau lebih tepatnya malas mungkin.  Karena beberapa keinginannya tak bisa aku penuhi.
Dan protes yang sempat membuatku teramat syok adalah, saat kutemukan catatan kecil yang ditempel sulungku di dinding kamarnya.  Bunyinya seperti ini, “Ibuku memang handal mendidik murid-muridnya, tapi tidak untuk anaknya...”
Deg.  Jantung ini serasa berhenti berdetak.  Sakit.  Sakitnya tuh bukan hanya di sini (di hati maksudnya).  Tapi di hampir seluruh persendian tubuh.  Lemas rasanya diprotes si sulung yang sudah remaja dengan diam-diam. Tak ada cukup waktu kah untuk mereka mengungkapkan perasaan dan keinginan mereka.  Padahal aku merasa sudah memberikan cukup waktu dan kesempatan untuk mereka bicara.  Astaghfirullah.

Tinggal 3 hari lagi!!!  Aku harus bergegas dan menciptakan moment yang tak akan pernah bisa dilupakan anak-anakku. Sederet rencana untuk 3 hari ke depan sudah kususun rapi.  Kucatat apa saja yang akan aku lakukan untuk menemani dan hadirkan hati bersama mereka. Saat tekun menulis catatan-catatan kecilku, tiba-tiba....  Kling.  Nada pengingat di ponselku berbunyi.  Sebuah pesan masuk. 
“Assalamualaikum  Bu Titin.  Aku kangen ibu deh.  Sebentar lagi aku sidang Bu.  Doain ya Bu...”
Subhanallah.... dari Fida Thahirah, murid kelasku belasan tahun lalu.  Saat ini tengah menyelesaikan tahun terakhirnya di Fakultas kedokteran UGM.  Masih menyempatkan diri berkirim pesan.  Walau bertahun tlah lewat, komunikasi kami masih terjaga.  Menghadirkan dimensi waktu dan tempat yang tak berbatas. 

Air mataku menitik.  Rasa haru menyeruak ke permukaan.  Terbayang masa kebersamaan kami dulu.  Belajar membaca, menulis, berhitung.  Tertawa, sedih, marah, jengkel, bercerita dan bermain bersama.  Ah, anakku... pastinya ibu akan mendoakanmu.  Sebagaimana janji bu guru pada kalian dulu.  Agar kalian, murid-murid ibu, bisa menjadi orang-orang berguna untuk masyarakat.  Menjadi manusia-manusia yang jauh lebih hebat dari bu guru. 

Sebuah dilema.  Antara pekerjaan dan tugas sebagai seorang ibu sekaligus guru.  Tak mungkin kulepas kedua peran itu untuk saat ini.  Aku masih diberikan Allah waktu dan kesempatan untuk berkarya.  Berbagi ilmu, empati, kasih sayang, keberadaan diri.  Di hadapan anak-anak dan murid-murid sekolahku.  Dunia yang tak sanggup aku tinggalkan.  Sungguh, menjadi seorang pendidik adalah cita-cita yang tak kan pernah mati.  Walau mungkin, aku tak sepenuhnya mampu menjalankan amanah untuk selalu bersama anak-anakku di rumah .  Karena aku yakin, Allah berikan tangan-NYA yang Maha Kuat untuk menjaga anak-anakku.  Hingga mereka tumbuh dan mandiri dibanding teman-teman yang lainnya.  Semoga mereka memahami peran ibunya yang tak sederhana.  Mereka pun rela untuk berbagi perhatian dan kasih sayang ibunya dengan anak-anak lain.  Sebagaimana, beberapa kali aku mengatakan dan berpesan pada mereka,

            “Anak-anakku, mohon maafkan ibu.  Semoga keikhlasan ibu mendidik dan mengajar murid-murid di sekolah.  Melayani telpon, sms atau kunjungan orang tua  mereka yang menyita waktu kebersamaan kita, berbalik menjadi amalan dan pahala yang terus mengalir dan memberkahi kehidupan kita.  Kalian semua akan jauh lebih mandiri, sabar, cerdas dan mampu menghadapi masalah dengan tenang.  Ibu yakini itu.  Allah akan senantiasa bersama kita....”

Kututup catatan kecil hari ini dengan sebuah janji.  Janji sederhana di tahun baru.  Tahun 2015.  Aku ingin membuat sebuah resolusi baru dalam hidupku.  Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk anak-anak dan muridku.  Kalaulah aku tahu deadline liburku tinggal 3 hari ini, namun aku tak pernah tahu, kapan Allah tetapkan waktu untukku hidup di dunia ini.  Hitungan detikkah, menitkah, jamkah, bulan atau tahun?  Aku tak tahu kapan deadline hidupku.  Yang ingin kulakukan adalah membuat anak-anak dan muridku tahu, bahwa aku akan bersungguh-sungguh menjadi ibu dan guru sebagaimana yang mereka harapkan.  Dengan segala keterbatan yang ada padaku.  Wallahu alam bissawab.

(Karawang, 5 Januari 2015.  Untuk anak-anakku yang hebat : Teh Fida Amatullah, a Abdullah Azzam, a Abdullah Miqdad dan Zhafira Zara Amatullah...terima kasih sudah mau mengerti dan berbagi waktu untuk murid-murid ibu...)


Jumat, 16 Mei 2014

yang terjatuh, tak berarti menjadi abu...



MANG DAAN VERSUS BRIPTU AHMAD
(Catatan kecil : Titin Supriatin, S.P)

Sahabat,

Aku pernah bercerita tentang Mang Daan di blog dan bukuku beberapa waktu lalu.  Sebagai review, Mang Daan adalah seorang tukang sol sepatu dan tukang gambar.  Beliau hidup pada masa kanak hingga remajaku.  Aku terinspirasi oleh keikhlasan beliau dalam menjalani hidup.  Dalam kesederhanaan dan keterbatasan hidup, Mang Daan masih bisa berbagi pada orang yang membutuhkan.  Terutama pada anak-anak sekolah yang meminta pertolongan atau bantuannya.  Mengesolkan sepatu, menjahitkan tas robek atau sekedar meminta digambarkan sebuah lukisan yang harus dikumpulkan sebagai tugas rumah.

Kalian tahu, apa yang mampu membuat kelopak mataku membasah jika teringatnya?  Mang Daan tak pernah mematok berapa besar uang jasa yang harus kami keluarkan untuk membayar tenaga beliau.  Dengan penuh senyum beliau menerima berapa pun uang yang kami beri.  Bahkan acapkali beliau mengGRATISkan biaya jasa mengesol sepatu atau menggambar saat kami tak punya uang untuk membayar.  Dengan suara halus dan tatap penuh kasih beliau mengatakan:"Sudahlah, tak usah membayar.  Kalau tak punya uang, tak mengapa.  Yang penting kamu bisa berangkat sekolah memakai sepatu, tidak dimarahi atau dihukum guru..."
Subhanallah... air mataku menitik, tak dapat membendung haru yang menggunung, jika mengingat sosok sederhana itu kembali.  Berseragam lusuh, bersepatu butut, menyandang tas yang talinya putus. Berjalan menunduk, bukan karena rendah diri.  Sama sekali tidak.  Mang Daan adalah sosok ramah, penuh canda dan tawa, membuat kami (terutama anak-anak dan para remaja) merasa betah berada di dekatnya.  Pula, beliau pandai bercerita tentang apa saja.  Cerita horror maupun jenaka.  Kami dibuat ternganga mengikuti berbagai kisah yang beliau bagikan.  Selalu menarik.  Apalagi saat bercerita tentang hal-hal yang lucu.  Kekehnya yang khas selalu mengiringi akhir kalimat.  Kami ikut tergelak geli bersamanya.  Beliau berjalan menunduk karena mata beliau yang hampir buta.  Namun keterbatasan ekonomi, membuat beliau terus bertahan mencari nafkah dengan apa yang beliau mampu, hingga ajal menjemput sepuluh tahun silam.

Sahabat,
Tentu kau bertanya, apa yang ingin kubagi pada kisah Mang Daan versus Briptu Ahmad ini?  Begini...
Beberapa waktu lewat, aku mengalami sebuah pengalaman pahit.  Pengalaman ini sungguh bertolak belakang dengan kisah Mang Daan yang telah aku ceritakan.  Pengalaman ini membuatku menunduk sedih.  Menekur bumi dan  bertanya pada tanah yang kupijak : Seperti inikah kondisi negeri tempatku berdiri…  Karena tak ada jawab, kutengadah menatap langit.  Menahan genangan air mata yang hampir meluruh.  Mungkin… memang inilah dunia yang sesungguhnya…
Sahabat, pasti kau semakin penasaran kan?  Baiklah, aku ceritakan saja semuanya pada kalian.  Agar sempit dada dan sesak jiwa bisa kubagi denganmu, walau kau jauh entah di mana. 
Cerita ini berkisah tentang seorang polisi bernama Briptu Ahmad (samaran lah).  Seorang polisi lalu lintas yang senja temaram  itu tengah bertugas menjaga lalu lintas di pertigaan pintu tol Bekasi timur.  Kawasan itu memang padat pada sore hingga malam hari.  Maklumlah, wilayah strategi para pekerja bermukim.  Hingga lalu lintas pulang kerja akan sangat padat.  Jalanan dipenuhi kendaraan beriringan, serupa semut raksasa berbaris rapi.  Kondisi itu melahirkan sebuah peraturan khusus bahwa di atas pukul 5 sore, angkutan umum serupa bis besar dan truk dilarang melintas di wilayah itu.

Cerita menjadi sebuah jalinan, karena hari itu sekolahku mengadakan acara outbond untuk siswa kelas 1 dan 2.  Dari jadwal kegiatan yang kami rancang, kami sudah bisa pastikan rombongan kami akan melintas di wilayah terlarang ini di atas pukul 5 petang, karena jarak yang cukup jauh dan kemacetan yang terjadi di jalan tol.  Sebagai antisipasi, jauh-jauh hari kami sudah mempersiapkan segala kemungkinan untuk mengatasi masalah yang akan ditimbulkan.  Dari mulai membuat surat ijin ke pihak yang berwenang (polres) bahkan sampai meminta tolong salah seorang bapak anggota kepolisian yang notabene orang tua murid sekolah kami, untuk mempermudah kami melintasi pintu tol yang tak jauh jaraknya dari lokasi sekolah kami.

Dengan dada berdebar, kami saling berkoordinasi antar PJ bus dan tentu saja aku sebagai bendahara kegiatan.  Loh kok... apa hubungannya dengan bendahara?  Ya untuk jaga-jaga kalau akhirnya "JALAN DAMAI" yang harus kami tempuh... (Sambil nyengir kuda saat menulis ini, prihatin rek...).  Akhirnya drama itu pun dimulai.  Seorang teman sudah mengontak orang tua murid yang polisi itu.  Beliau berjanji untuk mengontak temannya yang sore itu bertugas di lapangan.  Tiba di wilayah terlarang, dua orang guru turun dan mencoba berdialog untuk ijin menyeberang ke lokasi sekolah kami berada.  Sekali lagi, JUST CROSSING loh... karena sekolah kami ada di pinggir jalan tol.  Bayangkan!  Hanya menyeberang!

"Maaf Pak, kami dari SDIT baru pulang dari kegiatan outbond, bisa melintas sebentar ya Pak..." Begitu kira-kira temanku berdialog, didampingi seorang bu guru yang mendapat amanah dari polisi orang tua murid, siapa tahu pesan untuk mengijinkan melintas sudah disampaikan.
"Anda sudah tahu peraturannya, kok masih lewat sini juga!"  Tegur si Briptu Ahmad ini.
"Betul Pak, kami sudah tahu, tapi bagaimana lagi ya... kami memang harus melintasi jalan ini.  Kami membawa murid-murid SD kelas 1 dan 2 Pak, kasihan kan...bisa kami ijin untuk lewat?"  Memelas bu guru temanku memperkuat, siapa tahu Briptu Ahmad luluh dengan kecantikan dan kelembutan seorang wanita (hehe… jurus semi pamungkas)
"Maaf, tidak bisa!  Harusnya anda memberitahukan ke kantor"  Si Briptu tambah galak.
"Kami sudah ijin ke kantor kok Pak.  Oh ya... Bapak sudah dapat telepon dari Pak Riko?"
"Siapa itu Pak Riko?  Dari kesatuan mana?  Ngga... saya belum dapat telepon dari siapa pun..."
"Oh, Pak Riko kan polisi juga Pak, katanya teman Bapak.  Anaknya ada dalam bus rombongan ini..."
"Maaf saya tak kenal Pak Riko... "
Dua orang temanku saling memberi isyarat.  Sementara riuh suara anak-anak yang gelisah dalam bus yang terjebak dalam antrian padat merayap terdengar sampai luar. 
"Baiklah Pak, kita terima salah.  Mohon terima ini... "  Temanku akhirnya merogoh saku dan mengeluarkan 2 lembar uang limapuluhribuan yang sudah disiapkan dari tadi lalu menyelipkannya ke tangan polisi itu.
"Ya sudah.  Silahkan jalan."  Jawab Briptu Ahmad sopan.  Nada galak yang tadi mengudara, berganti tutur kata yang sopan.

Puih!  Cerita yang menyedihkan ya... Setidaknya, bagiku begitu.  menohok hati dan jiwa.  Teramat.  Sangat.  Lebay dikit...  Tapi memang peristiwa itu membuatku termenung dan syok.  Bukan dari sisi nilai uang yang harus kami tukar dengan sebuah ijin sederhana.  Masalahnya begini sahabat...

Pertama, sebagai pengayom dan pelindung masyarakat, polisi seharusnya menjalankan tugasnya dengan hati nurani.  Sekolah adalah lembaga pendidikan.  Mencetak generasi penerus bangsa yang seharusnya didukung segala bentuk kegiatannya.  Bukan malah mengharap imbalan jasa, yang maaf, lebih mirip sebuah pemalakan.

Kedua , jujur, polisi adalah sosok idolaku.  Karena aku berasal dari keluarga polisi.  Ayah dan kakak sulungku adalah polisi.  Namun, sungguh berbeda orientasi polisi sekarang dengan masa ayahku masih hidup.  Beliau tak pernah melakukan hal seperti itu.  Memalak para pengguna jalan.  Malah sebaliknya ayahku saat bertugas menjadi polisi sangat kooperatif.  Tak pernah mau diberi uang lelah.  Beliau selalu mengatakan, ini sudah tugas saya.  Saya sudah mendapat gaji dari negara.  Silahkan Bapak/ibu gunakan uang ini untuk keperluan yang lain.  Ah,  sungguh aku kecewa.  Aku malu...

Ketiga, jarak dari jalan tol menuju sekolah kami hanya 100 merter.  Sedangkan jarak dari tol menuju jalan kecil seoklahku hanya 50 meter.  Masa dipersulit juga?  Hanya menyeberang sebentar... (sst… bunda, mau sedikit, sebentar kek, kan udah peraturan…).  [Betul sih, tapi kok rasanya… tegaaa gituh lo!]

Bukan hal yang "aneh" mendapati kasus-kasus serupa itu.  Banyak.  Tapi aku berharap, masih ada polisi-polisi lain berhati mulia dan menjalankan tugasnya dengan NURANI yang tulus.  Mengabdi dan melindungi masyarakat dari segala bentuk ketidakamanan.  Bukankah polisi juga manusia, punya orang tua, saudara, istri dan anak?  Andai mereka mengalami hal yang sama...

Sungguh, dua kisah yang bertolak belakang.  Antara Mang Daan tukang sol sepatu sederhana yang  peduli pada anak-anak.  Secara tidak langsung beliau telah berkontribusi pada dunia pendidikan.  Sementara Briptu Ahmad, seorang polisi yang dari sisi kedudukan dan martabat di masyarakat jauh lebih tinggi dan terhormat.  Namun tak menghiraukan bahkan "merecoki" dunia pendidikan dengan ketidakpedulian pada lembaga sekolah yang meminta perlindungan untuk memakai sedikit saja jalan... Bukan jalan nenek moyangnya, tapi jalan milik masyarakat!

Sebagai penutup, aku hanya berharap Briptu Ahmad ikut membaca tulisan ini.  Aku berharap, beliau belajar kepedulian pada Mang Daan yang tukang sol sepatu.  Jabatan dan pangkat mungkin berbeda di dunia.  Jabatan dan pangkat mungkin menjadikan seseorang lebih terhormat dibanding yang lain.  Namun Ingat Briptu Ahmad, semua itu tak ada artinya di mata Allah... (Bekasi, 16 Mei 2012.  Catatan kecil untuk dunia kepolisian.  Mohon maaf atas ketidaksopanan saya yang telah menuliskan semua ini…)

Sabtu, 10 Mei 2014

Seandainya Ini Aku....



Bu Ika dan Gerimis


(Ditulis oleh : Titin Supriatin, S.P)
            Alunan lagu anak-anak mulai bergema.  Memenuhi lorong-lorong kelas dan ruang kantor sekolahku.  Menandakan waktu istirahat kedua sudah dimulai.  Berhamburanlah murid-murid dari ruang kelas dan musholla.  Girang berlarian di halaman sekolah yang licin, bercat hijau dan oranye.  Mereka baru usai melaksanakan shalat dzuhur berjamaah.
            Udara pukul 12.30 siang itu terasa basah dan sejuk.  Langit berkelir abu-abu pekat, jenuh dengan sekumpulan gumpalan-gumpalan awan hitam yang berarak.  Tak berapa lama, titik-titik hujan jatuh menimpa gedung sekolah, pohon-pohon dan semua yang ada di bawahnya.  Murid-murid semakin riang berloncatan menyambut gerimis.  Sedangkan angin menerbangkan rambut dan kerudung mereka, seakan ikut bersuka cita.  Ah, sungguh hari yang teramat manis!
            Mataku mengerjap basah.  Kutatap pentas kecil itu dari balik kaca jendela kelas di lantai 2 ini dengan haru.  Sesosok anggun, lembut dan cantik membayang dari jendela kaca, mengusik lamunanku  .  Lima belas tahun yang lalu kami sering berdiri bersisian di sini.
            “Bu Guru suka sekali saat gerimis seperti ini.  Gerimis itu sejuk dan menyenangkan.”  Kata sosok itu dengan suara khasnya yang merdu.
            “Kenapa Bu Guru suka pada gerimis?  Uhm… pasti karena gerimis itu dingin dan basah ya?”  Tanyaku sekaligus mengomentari dengan sok tahu.
            “Uhm, entahlah.  Yang jelas gerimis itu indah.  Ibu jadi merasa damai, merasa lebih dekat dan lebih mengenal Sang Pencipta.”
            “Ih, Ibu puitis sekali sih.  Kata mamaku, orang puitis itu hatinya lembut dan suka menyendiri.”
            “Ha…ha…ha.  Kamu ini ada-ada saja Ara!  Siapa bilang ibu suka menyendiri?”
            “Buktinya, aku lihat dari tadi Ibu berdiri terus di sini.  Pasti sedang merenung atau mencari ide untuk membuat puisi.  Betul kan?”  Godaku lagi.
            “Ha…ha..ha…”  Lagi-lagi Bu guru tertawa, “Sok tahu ah kamu!”  Bu guru mencubit pipiku gemas.  Lalu memelukku hangat.  Kami tertawa bersama.  Larut dalam kebersamaan yang indah.  Menikmati gerimis dan serunya murid-murid yang berlarian di bawah sana.
            Begitulah adanya Bu Ika.  Wali kelasku yang cantik, baik hati,  pandai membuat puisi dan menulis cerita.  Beliau sangat dekat dengan murid-murid.  Termasuk aku tentunya.  Pada jam-jam istirahat seperti ini, beliau sering melewatinya dengan bermain, bercanda atau sekedar mengobrol dengan kami.  Kami semua menyayanginya.  Kami selalu merasa terhibur berada di dekatnya.
            Satu sore, sebelum bel pelajaran terakhir berbunyi, langit mendadak gelap dan angin bertiup kencang.  Menimbulkan bunyi derak pada dahan, ranting pohon dan benda-benda yang terbuat dari seng.  Tak berapa lama hujan turun rintik-rintik, lalu turun semakin membesar.  Aku melihat Bu Ika berjalan menghampiri jendela kelas.  Seperti biasa, matanya sendu melihat ke luar sana.  Entah apa yang menarik perhatiannya.
            Diam-diam aku menghampirinya.  Kulihat matanya berkaca-kaca.  “Bu Ika kenapa?  Pasti dapat ide puisi baru lagi ya…”  Sapaku sambil memeluk lengannya manja.  Bu Ika terkejut melihatku.  Lalu Beliau menggelengkan kepala.
            “Ah, kamu Ara.  Tidak sayang, Bu Ika tidak apa-apa.”  Jawab Bu Ika.  Bibirnya memaksakan sepotong senyum.
            “Tapi, kenapa Bu Ika menangis?”  Bisikku sambil menatap matanya yang mulai basah.
            “Tidak anakku.  Bu Ika cuma ingin memandangi gerimis saja.  Indah sekali sekolah kita saat disiram gerimis seperti ini.  Ibu senang memandanginya lama-lama.”  Bu Ika kembali menerawang pemandangan di luar kelas yang kini sempurna basah dan penuh garis hujan.
            Kami terdiam.  Sibuk menikmati  hujan yang tetesannya mulai menumbuhkan embun di kaca jendela.
            “Pastinya, ibu akan merindukan tempat ini satu hari nanti.  Merindukan sekolah kita yang basah berselimut hujan.  Juga merindukan kalian.”  Bisik Bu Ika tersendat, tanpa menolehku.
            “Memangnya kenapa?  Ibu mau ke mana?  Kok bicaranya seperti orang yang mau pergi jauh saja?”  Tanyaku curiga.
            “Haha… Ara.  Selalu ingin tahu!  Sudahlah, Ibu cuma bercanda.  Lagi pula, betul kata kamu.  Ibu memang melankolis.  Kamu tahu melankolis itu apa?  Ya itu deh, suka cepat sedih dan terlalu perasa.  Suka berkata yang indah dan kadang aneh juga.”  Bu Ika tertawa geli.  Namun aku sempat menangkap sinyal duka di matanya.  Ah, ada apa dengan Bu Ika?
            Rasa penasaranku akan sikap Bu Ika terus bertahan.  Aku jadi lebih sering memperhatikan Beliau.  Memang ada yang aneh akhir-akhir ini.  Bu Ika lebih pendiam.  Sering berdiri sendirian di bibir jendela kelas kami.  Memandang ke luar dengan tatapan sendu.  Lalu menarik nafas panjang.  Kadang menghapus mata dengan ujung kerudungnya.  Tapi Bu Ika tetap bisa tertawa dan bercanda saat bersama kami.
            Sebulan kemudian, kami jarang melihat Bu Ika di sekolah.  Dalam seminggu, Bu Ika hanya masuk 2-3 hari.  Bahkan pada bulan berikutnya Bu Ika tak pernah masuk ke kelas lagi.  Menurut khabar, Bu Ika dirawat di rumah sakit.  Bu Ika menderita penyakit parah.  Kami sedih sekali.  Kami menjenguknya di rumah sakit.  Badan Bu Ika kurus dan teramat lemah.  Aku tak dapat menyembunyikan tangisku di hadapan Bu Ika.  Aku membisikkan doa di telinga Bu Ika, agar Bu Ika cepat sembuh.  Aku rindu melihat gerimis dan hujan bersamanya.
            Bu Ika hanya mampu tersenyum.  Air matanya meleleh membasahi pipinya yang semakin tirus.  Bu Ika menggenggam tanganku dan berbisik lirih sekali, hampir tak terdengar.
            “Jangan bersedih Ara.  Doakan yang terbaik untuk Bu Ika.  Ingat percakapan kita dulu?  Ibu pasti akan selalu merindukan kalian.  Kalau ibu pergi, berjanjilah untuk menjadi anak yang shaleh.  Anak yang berguna dan membanggakan orang tua dan masyarakat.”
            Kata-kata Bu Ika selalu terngiang di telingaku.  Wajahnya yang menahan sakit, namun mencoba untuk tetap tersenyum terus bermain di mataku.  Kami sangat kehilangan.  Sepi rasanya kelas tanpa Bu Ika.  Tak ada lagi yang bersenandung merdu saat kelas hening.  Tak ada lagi yang menceritakan dongeng lengkap dengan mimic dan suara yang hidup.  Tak ada lagi guru yang bisa kami ajak main petak umpet di kelas.  Tak ada lagi yang membetulkan kerudung atau memotong kuku kami.  Tapi aku berharap Bu Ika akan sembuh dan kembali mengajar kami.
Namun sore itu, aku mendengar khabar lewat pengeras suara sekolah, bahwa Bu Ika telah berpulang ke Rahmatullah.  Bu Ika pergi untuk selama-lamanya.  Bu Ika meninggal dunia, akibat penyakit gagal ginjalnya.  Innalillahi wa inna ilaihi Rojiun.  Aku dan hampir semua warga sekolah tak dapat menahan air mata.  Kami menangis. 
Gerimis mengiringi kepergian Bu Ika.  Aku terisak di bibir jendela kelasku.  Memandangi gerimis yang mengguyur bangunan dan pohon-pohon sekolahku.  Tak rela rasanya Bu Ika pergi secepat itu. 
Sampai hari ini pun, aku merasa Bu Ika masih ada di sini, di bingkai kaca jendela kelas ini.  Berdiri memandangi gerimis  bersamaku.  Walaupun Bu Ika sudah tak ada, Beliau akan tetap hidup di hatiku.  Menginspirasi hari-hari masa depanku, seperti nasehatnya padaku dulu.
“Bu Ara, kenapa masih termenung di sini?  Bel masuk sudah dari tadi berbunyi loh Bu.”
Seseorang menegurku dari belakang.  Ah, rupanya Azzam!  Muridku yang paling perhatian pada guru.  Aku tersenyum padanya.  Kulambaikan tangan memintanya mendekat.
“Kemarilah Azzam, Bu Ara sedang menikmati gerimis yang indah itu.  Lihatlah… sini!”
Azzam menghampiriku.  Matanya takjub memandang sekeliling di luar kelas sana.  Basah oleh air.  Bayangan Bu Ika berkelebat.  Tersenyum padaku.  Ah, terima kasih Bu Ika.  Kenangan bersamamu begitu indah.  Seindah gerimis siang ini.@